Selasa, 27 September 2016

Malam Jeritan

Jeritan pertama .Pilu
Mengagetkan..!!!. Suasana kelam melengkapi kepekataannya. Lorong itu, gelap, pahit, dan kental. Apalagi petir tadi benar-benar membumbui suasana hujan malam ini. Terlihatlah di ujung sana ada bayangan.
Subuh ini mengawali hari. Bah, cuaca kurasa ingin memabukkanku, rintik air yang terlihat di jendela menghipnotiskuu, dan suara mereka menghanyutkanku. Kulempar selimut, bangunkan badan, dan mengumpulkan sisa-sisa jiwa. saat itulah kejadian itu menghampiriku.
Malam itu, dengan jaket kulit yang terpasang ditubuh jangkungku. Jangkung,ah... Inilah diriku bahkan banyak temanku yang menyebutku kutilang. Kurus, tinggi, langsing, seorang pria yang lemah dengan ejekan hati-hati..! Bisa-bisa kau patah diterpa angin.
Angin.. ya angin, angin malam ini sama seperti malam itu ketika apa yang biasa kita sebut tragedi telah terjadi. Tragedi yang memukul, menghentakkan, dan mulutku terdiam.
Pemadaman bergilir terjadi, kamarku berada di ujung lorong asrama. Gelap, pahit, dan kental. Kutantang kegelapan ini, waktuku dipertaruhkan disini .kuharus menemukannya! Besok adalah moment yang tak mudah untuk ditemukan kembali. Dimana ia!!? Ah. Kumohon. Muncullah!!. Harapanku khusyu', tubuhku ikhtiyar, kurasa langit iba padaku ia datangkan petir. Mengejutkan! Dan bayangan itu, tempat yang sama seharusnya ia berada. Bayangan itu membuatku tertegun. Lorong tanpa atap ini. Diujung sana.. Aku menangis, bingung, ah.....sial....... Terikanku terasa benar-benar pilu.. Wahai sepatuku satu-satunya besok itu senin andai kau tahu itu. (Sialnya anak sekolah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar