WAJA’LNA LIL MUTTAQINA IMAMA
Oleh: kang Boy.0
Gegap gembita pesta demokrasi serentak disebagian
besar wilayah Indonesia beberapa waktu lalu, akan segera kita rasakan. Bulan
ini menjadi istimewa, dengan akan adanya reformasi kepengurusan we beloved
cottage Darul Huda. Beliau Ust Eko Hadi Nurcahyo, telah memimpin kita dua
tahun lamanya. Terimakasih sebesar-besarnya atas pengabdian beliau. Lantas
siapakah yang akan menjadi pengganti dan akan memimpin, satu priode kedepan?.
Harapan kita pada sosok pemimpin idaman
sangatlah nyata. Namun taukah kita kriteria pemimpin idaman?. Dengan menyitir
surah al-Furqaan ayat 74 yang sering kita jadikan do’a, sebenarnya kriteria
pemimpin idaman seringlah kita sebutkan. Para muttaqin, merekalah yang kita dambakan dalam do’a-do’a.
Namun pertanyaannnya kenapa pemimpin idaman kita adalah para muttaqin?.
Para muttaqin adalah sebutan
orang-orang yang bertaqwa. Taqwa merupakan, salah satu sifat orang-orang
mukmin. Menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan, ”taqwa lahir sebagai konsekuensi
logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan
muraqabatullah, merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya dan selalu berharap
atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya”. Sebagai kaum yang logis dengan ilmu Mantiq,
maka iman kokoh dan taqwa adalah hal pokok yang yang seharusnya santri miliki.
Dan untuk memilikinya, bagaimanakah caranya?.
Dalam definisinya, taqwa dipupuk dengan
muraqabatullah. Dengan kata kunci ini, telah tampak jalan menuju taqwa. Dan apa
yang dimaksud muraqabatullah?.
Muraqabatullah merupakan rasa was-was karena
merasa senyata-nyatanya Allah pasti mengawasi secara haq. Karena terawasi,
seseorang akan berhati-hati dalam tindak perilakunya. Gambarannya, santri
selalu ragu untuk melanggar peraturan pondok karena merasa diawasi oleh pihak
amni (keamanan.baca).
JALAN TAQWA
Memimpin para pemimpin. Tugas yang berat dan
penuh tanggung jawab. Manusia sebagai pemimpin dirinya sendiri, akan memimpin manusia
lain. Maka wajarlah, ketika Khulafur Rasyidin maupun mereka yang tidak
diragukan ketaqwaannya, selalu menghindarl jabatan pemimpin. Sehebat apapun
seorang individu, tak dapat ternafikan, ia adalah makhluk yang lemah. Maka
wajar ketika ia mengelak beban sebagai pemimpin. Tapi, jika telah datang
padanya beban pemimpin, maka manusia membutuhkan eksistensi suprarasional yang
telah menganugerahkan daya pada dirinya untuk membantunya.
Seperti yang telah Rasullalh sabdakan “La tas’al
imarah. Fainnaka in utiitaha’an mas’alatin wukkiltailaihaa. Wain utiitaha ‘an
ghoiri mas’alatin u’inta ‘alaiha”. Para muttaqin adalah pemimpin
ideal namun mereka tidak akan meminta jabatan pemimpin. Dan ketika jabatan itu
datang dengan sendirinya, Allah akan menolongnya untuk menunaikan tugas dengan
sebaik-baiknya. Maka, pertolongan dari makhluk manakah yang lebih berguna
daripada prtolongan yang berasal dari Sang Kholiq.
Karena itulah Ketaqwaan, merupakan jalan yang
harus dilalui pemimpin umat. Dengan taqwa pemimpin akan sadar kullunnasi
do’ifun. Sebagai makhluk do’if ia akan memahami kebesaran dan kekuasaan
Allah. Sehingga tidaklah ia berbuat dholim sebagai mahkluk lemah. Namun, ia
akan berusaha menghiasi diri dengan akhlakul karimah.
Eksistensi taqwa dan do’a kita untuk muttaqin
menjadi jalan selamat bagi pemimpin dan umatnya. Muraqabatullah akan
menyelamatkan pemimpin menghadapi beban dan tanggung jawab. Karna pada wajar dan seharusnya, tidaklah
seorang yang taqwa pada Allah berani mendholimi makhluk-Nya. Berani melanggar
syari’at-Nya. Dan tidak berlaku adil pada mereka yang berhak diperlakukan
secara semestinya.
Menjadi pribadi yang bertaqwa, adalah
pekerjaan rumah untuk pemimpin masa depan. Cara mencapainya harus sesuai dengan
jalan yang tepat. Manfaatnya, akan laraslah antara berpikir dan bertindak
sebagai pemimpin para pemimpin. Maka bukan hanya untuk calon lurah saat ini,
kitapun calon pemimpin masa depan juga harus menempuhnya.
Namun, menjadi pribadi bertaqwa tak semudah
terucap. Tapi perlu diingat, jalan taqwalah satu-satunya jalan pemimpin dapat
selamat. Selamat dari urusan pribadinya dan urusannya sebagai peimpin. Dan untuk
umat yang mempercayakan kepemimpinan pada muttaqin, selamatlah dunia dan
akhiratnya. Karena ketaqwaan akan menjadi jalan kemudahan dalam kepemimpinan. Dan
takperlulah bagi para muttaqin, menolak amanat pemimpin karen Allah
telah berjanji “ waman yattaqillaha yaj’allahu mukhrojan wa yarzahu min haisu
laayahtasib”.
Mudah-mudahan, pemimpin kedepan benar-benar
tercermin dari do’a yang selalu kta panjatkan. Dan untuk beliau lurah kita saat
ini, Ust Eko Hadi Nurcahyo, terimakasih sebesar-besarnya atas perjuangan anda. Pengabdian,
perjuangan, dan sabar diri mudah-mudahan menjadi landasan jalan taqwa pada diri
beliau. Dan untuk kita semua calon pemimpin masa depan, marilah memulai jalan
ketaqwaan sebagai hamba sesuai apa yang telah diperintahkan.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ