Minggu, 05 Maret 2017

demokarasi PPDH

WAJA’LNA LIL MUTTAQINA IMAMA
Oleh: kang Boy.0

Gegap gembita pesta demokrasi serentak disebagian besar wilayah Indonesia beberapa waktu lalu, akan segera kita rasakan. Bulan ini menjadi istimewa, dengan akan adanya reformasi kepengurusan we beloved cottage Darul Huda. Beliau Ust Eko Hadi Nurcahyo, telah memimpin kita dua tahun lamanya. Terimakasih sebesar-besarnya atas pengabdian beliau. Lantas siapakah yang akan menjadi pengganti dan akan memimpin, satu priode kedepan?.

Siapapun lurahnya, tentu seluruh santri mengharapkan pemimpin idaman. Walau terlihat imajinatif dan jauh panggang dari api, tidak ada satupun yang berhak mengolok pengharapan. Dan kita, kaum santri selalu memanjatkan do’a, waja’alna lil muttaqina imama. Serta Kholiq berjanji ud’uni fastajiib lakum. Maka,siapakah makhluk yang lebih berkuasa dari penciptanya.?

Harapan kita pada sosok pemimpin idaman sangatlah nyata. Namun taukah kita kriteria pemimpin idaman?. Dengan menyitir surah al-Furqaan ayat 74 yang sering kita jadikan do’a, sebenarnya kriteria pemimpin idaman seringlah kita sebutkan. Para muttaqin,  merekalah yang kita dambakan dalam do’a-do’a. Namun pertanyaannnya kenapa pemimpin idaman kita adalah para muttaqin?.

TAQWA
Para muttaqin adalah sebutan orang-orang yang bertaqwa. Taqwa merupakan, salah satu sifat orang-orang mukmin. Menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan, ”taqwa lahir sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah, merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya”. Sebagai kaum yang logis dengan ilmu Mantiq, maka iman kokoh dan taqwa adalah hal pokok yang yang seharusnya santri miliki. Dan untuk memilikinya, bagaimanakah caranya?.

Dalam definisinya, taqwa dipupuk dengan muraqabatullah. Dengan kata kunci ini, telah tampak jalan menuju taqwa. Dan apa yang dimaksud muraqabatullah?.

Muraqabatullah merupakan rasa was-was karena merasa senyata-nyatanya Allah pasti mengawasi secara haq. Karena terawasi, seseorang akan berhati-hati dalam tindak perilakunya. Gambarannya, santri selalu ragu untuk melanggar peraturan pondok karena merasa diawasi oleh pihak amni (keamanan.baca).

JALAN TAQWA
Memimpin para pemimpin. Tugas yang berat dan penuh tanggung jawab. Manusia sebagai pemimpin dirinya sendiri, akan memimpin manusia lain. Maka wajarlah, ketika Khulafur Rasyidin maupun mereka yang tidak diragukan ketaqwaannya, selalu menghindarl jabatan pemimpin. Sehebat apapun seorang individu, tak dapat ternafikan, ia adalah makhluk yang lemah. Maka wajar ketika ia mengelak beban sebagai pemimpin. Tapi, jika telah datang padanya beban pemimpin, maka manusia membutuhkan eksistensi suprarasional yang telah menganugerahkan daya pada dirinya untuk membantunya.

Seperti yang telah Rasullalh sabdakan “La tas’al imarah. Fainnaka in utiitaha’an mas’alatin wukkiltailaihaa. Wain utiitaha ‘an ghoiri mas’alatin u’inta ‘alaiha”. Para muttaqin adalah pemimpin ideal namun mereka tidak akan meminta jabatan pemimpin. Dan ketika jabatan itu datang dengan sendirinya, Allah akan menolongnya untuk menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Maka, pertolongan dari makhluk manakah yang lebih berguna daripada prtolongan yang berasal dari Sang Kholiq.

Karena itulah Ketaqwaan, merupakan jalan yang harus dilalui pemimpin umat. Dengan taqwa pemimpin akan sadar kullunnasi do’ifun. Sebagai makhluk do’if ia akan memahami kebesaran dan kekuasaan Allah. Sehingga tidaklah ia berbuat dholim sebagai mahkluk lemah. Namun, ia akan berusaha menghiasi diri dengan akhlakul karimah.

Eksistensi taqwa dan do’a kita untuk muttaqin menjadi jalan selamat bagi pemimpin dan umatnya. Muraqabatullah akan menyelamatkan pemimpin menghadapi beban dan tanggung jawab.  Karna pada wajar dan seharusnya, tidaklah seorang yang taqwa pada Allah berani mendholimi makhluk-Nya. Berani melanggar syari’at-Nya. Dan tidak berlaku adil pada mereka yang berhak diperlakukan secara semestinya.

Menjadi pribadi yang bertaqwa, adalah pekerjaan rumah untuk pemimpin masa depan. Cara mencapainya harus sesuai dengan jalan yang tepat. Manfaatnya, akan laraslah antara berpikir dan bertindak sebagai pemimpin para pemimpin. Maka bukan hanya untuk calon lurah saat ini, kitapun calon pemimpin masa depan juga harus menempuhnya.

Namun, menjadi pribadi bertaqwa tak semudah terucap. Tapi perlu diingat, jalan taqwalah satu-satunya jalan pemimpin dapat selamat. Selamat dari urusan pribadinya dan urusannya sebagai peimpin. Dan untuk umat yang mempercayakan kepemimpinan pada muttaqin, selamatlah dunia dan akhiratnya. Karena ketaqwaan akan menjadi jalan kemudahan dalam kepemimpinan. Dan takperlulah bagi para muttaqin, menolak amanat pemimpin karen Allah telah berjanji “ waman yattaqillaha yaj’allahu mukhrojan wa yarzahu min haisu laayahtasib”.

Mudah-mudahan, pemimpin kedepan benar-benar tercermin dari do’a yang selalu kta panjatkan. Dan untuk beliau lurah kita saat ini, Ust Eko Hadi Nurcahyo, terimakasih sebesar-besarnya atas perjuangan anda. Pengabdian, perjuangan, dan sabar diri mudah-mudahan menjadi landasan jalan taqwa pada diri beliau. Dan untuk kita semua calon pemimpin masa depan, marilah memulai jalan ketaqwaan sebagai hamba sesuai apa yang telah diperintahkan.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Tidak ada komentar:

Posting Komentar