DARI TONTONAN JADI TUNTUNAN
Oleh: Muhammad Yunus Mahbub
Oleh: Muhammad Yunus Mahbub
Uses and Gratification ( penggunaan dan pemenuhan.baca), merupakan sebuah teori yang dicetuskan pada tahun 1974. Teori ini diusung oleh Katz dan Blumer. Asumsi dasarnya adalah khalayak dalam hal ini konsumen media, baik cetak, elektronik maupun internet memiliki keaktifan untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga teori ini akan menganalisa apa yang akan dilakukan khalayak terhadap medianya.
Kebutuhan manusia tidak dapat dinafikan bukan hanya sandang, pangan, dan papan. Ada kebutuhan lain dalam hidup manusia seperti, komunikasi, yang dikenal sebagai interaksi sosial dan informasi. Dewasa ini, informasi sangat mudah dikonsumsi dengan adanya teknologi informasi. Teknologi tersebut dapat berupa smartphone, televisi, radio dan koran. Hal tersebut memudahkan konsumen untuk aktif dalam memilih, menelaah, dan menilai jalur informasi, apapun bentuknya.
Namun, ketidaksadaran konsumen media terhadap apa yang ia konsumsi menyebabkan gejala yang memilukan. Dalam contoh terdekatnya, masyarakat setelah ba’da maghrib bukanlah sebuah rahasia umum, memiliki rutinitas yang terbilang sama. Sekeluarga, berkumpul untuk memenuhi kebutuhannya yang lain yaitu hiburan, sebagai bentuk istirahat dari rutinitasnya. Bentuk hiburannya seperti telah tersepakati pula, sama dalam bentuknya, sinetron. Sedangkan dalam sinetron, apa yang ditayangkan merupakan bentuk dari sebuah imajiner yang tidak mungkin ada dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya.
Mungkin untuk para orang dewasa, pesan yang diusung dalam sinetron hanyalah sebuah bentuk hiburan. Namun keaktifan untuk dapat menempatkan pesan hiburan tersebut, tidak dimiliki oleh anak-anak dan remaja. Pada anak-anak dan remaja terjadi proses jarum hipodermik. Proses ini menyebabkan anak-anak dan remaja saat mereka mengkonsumsi media sebagai pemuas kebutuhan informasi, mereka juga menggunakan informasi tersebut sebagai refrensi bentuk jati diri.
Maka bukanlah suatu yang mengherankan, perilaku kaum muda saat ini terlalu asing untuk kaum tua. Dengan berkiblat pada nabi baru mereka, artis, aktor, penyanyi, model, dan sebagainya, kaum muda ikut meniru apa yang menjadi panutannya. Dikarenakan memang adanya perbedaan menyikapi sebuah media yang dilakukan oleh kaum tua dibandingkan dengan kaum muda.
Simpulan atas perilaku remaja saat ini, dapat kita jumpai dengan mudahnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Di sekolah dasar dapat dijumpai anak-anak kesana-kemari memgang teknologi informasi. Tidak hanya disekolah, bahkan dalam kesehariannya ujung ibu jarinya telah dapat mengakses informasi yang berada dalam tingkatan global. Didukung pula sarana memperoleh informasi tersebut, merupakan teknologi informasi Highway. Tingkatan ini merupakan tingkatan tertinggi arus informasi jika digambarkan arusnya merupakan arus jalan tol yang tanpa hambatan.
Sayangnya, kebebasan mengakses informasi tidak diiringi dengan kemampuan untuk menggunakannya. Dapat dikatakan sebuah perilaku yang sangat isrof (berlebihan.baca) telah menjangkit kaum muda. Mengkonsumsi tanpa adanya pemanfaatan merupakan sebuah kemubaziran yang berujung dengan penyia-nyiaan sumber daya baik waktu, uang, listrik, dan yang paling riskan pola pikir.
Dan yang lebih disayangkan lagi, para orang tua sebagai guide of life (pemandu kehidupan.baca), saat ini memiliki ketidakpedulian terhadap apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya. Dengan membebaskan anak-anak dapat memungkinkan anak-anak mengekpresikan jati dirinya yang berujung lahirnya potensi dan kemampuan. Namun, tanpa adanya bimbingan dengan kognitif yang terbatas anak-anak harusnya, diberi bimbingan. Hal ini menjadi penting, agar anak tidak salah jalur dalam menggali jati dirinya.
Memang, apa yang ditayangkan media idealnya merupakan sebuah konseptif ide yang baik bagi para konsumennya. Tanggungjawab media terhadap khlayak merupakan sebuah keharusan. Karena tanpa adanya tanggungjawab sosial, tidak akan tercipta integrasi media terhadap lingkungannya. Buntutnya media tersebut akan mendapati sanksi sosial.
Namun, penyalahan terhadap media bukanlan seratus persen dapat diberikan. Kontrol dan kebebasan yang diusung teknologi informasi saat ini memudahkan konsumennya dapat memilih media apa yang ia inginkan. Maka, jangan sampai kita yang telah sadar tempat dan tata cara yang tepat untuk menyikapi media, menganggap kaum mudapun berkemampuan sama. Sehingga saat adanya penyimpangan perilaku yang menabrak adat, norma, dan hukum yang berlaku membuat kita terheran dan bertanya, apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi. Dan jangan sampai kita yang lebih mengetahui, menjadi buta dan tidak peduli terhadap mereka yang tidak mengetahui.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar