Sabtu, 15 Oktober 2016

.refleksi.

Terjerat Materi

Sudah lihat berita terkini..? saat ini, banyak sekali berita tentang segala pelaku atau kita sebut penipu pengganda materi. Dari kejadian-kejadian ini korban, jumlahnya sangat banyak. Benar-benar bukan angka yang dapat digolongkan sedikit. Dan terlebih lagi, tingkatan sosial para korban benar-benar dari paling bawah hingga paling atas.

Ambisi dunia sekali lagi menunjukkan gemuruhnya, dengan alih-alih cepat mendapatkan kondisi nyaman para pengikutpun banyak berdatangan. Situasi yang demikian dapat kita analisa dari seminimalnya dua faktor. Faktor "tidak berkecukupan dan faktor "belum berkecukupan. analisa ini didasarkan dari penggolongan tingkat sosial para korban.

Difaktor tidak berkecukupan dapat dirasakan sebagai manusia tidak ada satu pihakpun yang menginginkan kesukaran. Sulitnya ekonomi, menyempitnya lahan kerja, terkapitalisasinya sektor-sektor produksi menyebabkan aroma mencekat pada jiwa kita. Ditekan perut yang meronta, menangis dalam putus asa menyebabkan tumpulnya akal budi manusia. ini pilihan kejam yang tidak mungkin dihindari ketika manusia akan terkompetisi mendatangkan materi dari mana saja tanpa perlu lagi memikirkan asalnya.

Faktor belum berkecukupan, hadir dari trauma kita akan rasa tak berkecukupan. Rasa, Situasi, kondisi dan tekanan jiwa yang pernah merakan terhimpitnya materi menyebabkan pola pikir bagaimana kita mengobarkan segala sesuatunya bahkan mengorbankan diri sendiri. Melahirkan hukum belantara kembali dan mematikan hati sebagai manusia yang luhur. Sehingga dalam kondisi apapun, kita akan was was terhadap materi yang hilang dari pandangan.

Dua faktor diatas didasari oleh jiwa manusia yang telah dicekik materi. Pada awalnya, materi membunuh akal manusia dan secara bertahap akan mematikan jiwa dan hati nurani. Permasalahannya apakah kita harus membuang materi agar eksistensi sebagai manusia luhur dapat dipertahankan?, tentu tidak. Maka disituasi seperti ini, kita memerlukan pedoman hidup yang mengajari bahkan mewajibkan kita memposisikan segala sesuatunya secara berimbang. Karena materi bukanlah hal yang dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia, sehingga mari kita perkokoh akal dan hati nurani dengan cara yang bijak agar kita menjadi pribadi yang luhur.
*tugas artikel 211014001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar